Adriani Sukmoro

Pintar Bicara

Di suatu acara pelepasan sarjana baru, seorang peserta bertanya, apakah orang yang pintar bicara akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan daripada orang yang introvert? Introvert diartikan sebagai orang yang cenderung diam, tak banyak bicara, fokus pada pikiran dan pandangannya. Peserta tersebut juga meminta diberikan tips untuk meluweskan kemampuan bicara dalam wawancara pekerjaan.

Extrovert dan Introvert

Nama Carl Jung dikenal luas dalam ilmu Psikologi. Ia mengenalkan konsep extroversion dan introversion, dimana sikap extroversion cenderung melihat ke luar (outward looking), sementara sikap introversion cenderung melihat ke dalam (inward looking). Ia berpendapat, tidak ada manusia yang seratus persen extrovert atau seratus persen introvert, manusia berada dalam continuum keduanya. Namun ada kecenderungan yang lebih mengarah pada salah satu sikap itu dalam diri seseorang.

Orang yang cenderung memiliki extroversion, akan merasa nyaman berada di antara orang banyak. Dengan mudah mereka berbicara dengan orang lain, tak segan mengenalkan diri dan membuka pembicaraan. Mereka juga tak gugup jika tiba-tiba diminta maju ke depan dan berbicara tanpa perencanaan terlebih dahulu.

Orang yang cenderung memikiki introversion, lebih nyaman menghabiskan waktu dengan satu, dua, atau tiga orang; daripada berada dalam kelompok besar. Jika berada dalam kelompok besar, mereka mungkin cenderung mendengarkan dan mengamati, membahas apa yang diamati dalam pikirannya.

Wawancara Kerja

Pertanyaan sarjana baru di atas sangat tepat diajukan dalam persiapan masuk ke lapangan kerja. Mungkin penanya tadi menganggap dirinya seorang introvert, terkesan ada kekhawatiran di dalam pertanyaan itu: apakah kecenderungan introversion yang dimiliki dapat membuatnya terjebak dalam ketidakmampuan menjelaskan diri dalam proses wawancara kerja?

Sarjana baru tadi tak perlu khawatir. Kecenderungan perilaku yang dianggap kurang menguntungkan bisa diatasi jika orang tersebut menyadari kecenderungan itu. Kecenderungan bukan hal menetap, sehingga bisa dikurangi atau dihindari.

Sarjana baru yang merasa dirinya introvert tadi dapat mengikuti pelatihan wawancara kerja. Dalam pelatihan, peserta biasanya diajarkan cara membuat curriculum vitae (CV), cara menampilkan dan menjelaskan diri, cara memaparkan kemampuan yang dimiliki, cara mengungkapkan ketertarikan pada posisi dan bisnis perusahaan yang dilamar, serta tips wawancara lainnya.

Wawancara kerja adalah pembicaraan dua belah pihak, dimana pewawancara memulai dengan pertanyaan tentang hal tertentu, sehingga pelamar kerja bisa melatih diri tentang bagaimana teknik menjelaskan yang baik. Bagi sarjana baru yang tidak mempunyai pengalaman kerja, atau mempunyai pengalaman kerja yang terbatas, biasanya data akademis dan kegiatan ekstrakurikuler yang sering dijadikan basis dalam wawancara kerja. Karena itu, sarjana baru perlu memoles kemampuan menjelaskan berbagai data dan informasi yang mereka tulis dalam curriculum vitae (CV).

Dengan berlatih menghadapi wawancara, orang introvert mengasah kemampuannya berkomunikasi: menjawab pertanyaan dengan penjelasan yang menarik perhatian pewawancara.

Aura Meyakinkan

Dinamika antar murid bisa terlihat di dalam dan di luar kelas, begitu pula dengan mahasiswa di ruang kuliah atau di kampus. Dinamika kerja bisa terlihat antar karyawan yang bekerja dalam tim atau departemen yang sama. Kelompok pertemanan berdasarkan hobi atau ketertarikan lainnya juga memiliki dinamika sendiri.

Selalu ada orang yang terlihat lebih ‘menonjol’ dalam dinamika di atas, menonjol karena orang tersebut lebih berani berbicara (extrovert). Biasanya orang yang berani berbicara itu mempunyai sense of humor atau gaya bicara yang gampang mencairkan suasana. Mereka juga cenderung memberi komentar atau pendapat tanpa terlalu memikirkan bagaimana penilaian orang lain yang mendengar pendapatnya. Orang extrovert terlihat berkomunikasi tanpa beban, biasanya memiliki banyak teman karena gampang beradaptasi dalam berbagai situasi.

Selalu ada orang yang terlihat lebih menjadi ‘peserta’ dalam dinamika di atas. Orang tersebut cenderung mengamati dan mendengarkan (introvert). Kecenderungannya mengolah apa yang diamati dan dipikirkan membuat orang itu tak langsung melontarkan komentar atau pendapat. Orang introvert menjadi kurang terlihat jika berada bersama orang extrovert, para extrovert yang selalu tampil dan berbicara dengan aura meyakinkan.

Menjadi Pemimpin

Orang extrovert yang gampang berkomunikasi dimudahkan dalam pergaulan, termasuk dalam membina hubungan di dunia korporasi. Hubungan yang terbina dengan baik menciptakan jejaring (network) dalam organisasi, bisa membantu mereka menapaki jenjang karier yang diinginkan. Melalui network itu, orang extrovert bisa memanfaatkan kesempatan promosi, pindah posisi/jabatan, atau pindah bagian. Karena itu, ada yang beranggapan, orang extrovert dimudahkan untuk naik ke jajaran pimpinan organisasi.

Kemampuan komunikasi merupakan salah satu kunci kepemimpinan. Seorang pemimpin harus mampu menyampaikan visi dan misi perusahaan dengan cara yang dimengerti segenap elemen dalam perusahaan, juga mampu berkomunikasi dengan para pihak luar organisasi yang berkepentingan dengan perusahaan. Kemampuan komunikasi itu membuat seorang pemimpin bisa dipercaya dan menggalang kolaborasi di dalam organisasi untuk mencapai tujuan yang sama.

Kebutuhan kemampuan komunikasi membuat ada yang beranggapan, orang introvert tak bisa menjadi pemimpin. Pemimpin introvert tak gampang bergaul, tak gampang dekat dengan pimpinan lain maupun dengan karyawan, cenderung banyak berpikir di ruang kerjanya.

Persepsi di atas membuat orang lupa, pemimpin introvert mempunyai kelebihan tertentu. Mereka cenderung mendengarkan, lalu mengolah apa yang didengar dan mengembangkan pendapat pribadinya dalam pikiran. Keputusan yang diambil biasanya sudah dipikirkan dengan matang.

Western Culture

Susan Cain, seorang penulis dan pembicara dari Amerika, menulis buku Quiet: The Power of Introverts in a World That Can’t Stop Talking. Cukup menarik menyimak apa yang ditulis Susan Cain dalam bukunya. Ia berbicara tentang budaya Barat (western culture) yang cenderung merendahkan sifat dan kemampuan orang-orang introvert.

Susan Cain mempunyai motivasi kuat menulis buku itu. Ia sendiri seorang introvert, yang mengalami pergumulan dalam diri saat harus berbicara di depan publik (public speaking). Ia merasa kesulitan untuk tampil di luar zona nyaman; seperti pengalamannya di sekolah saat setiap murid harus berbicara di depan kelas. Saking merasa tertekan memikirkan keharusan berbicara di depan kelas, Susan Cain muntah ketika menuju kelas.

Buku Susan Cain yang membahas introversion membuatnya diundang untuk berbicara dalam program TED Talks. TED (Technology, Entertainment, Design) Talks merupakan program non-profit, bertujuan membagi pengetahuan secara terbuka dan menjangkau global; bisa diakses siapa saja melalui video YouTube.

Dalam kesempatan berbicara di TED Talks, Susan Cain menjabarkan pendapatnya tentang kaum introvert. Ia melihat western culture telah berubah, dari budaya yang menekankan pentingnya karakter, menjadi budaya yang mementingkan kepribadian. Kepribadian yang ideal dalam western culture adalah extrovert, nyaman berada dalam spotlight. Introvert dilihat sebagai suatu kekurangan.

Menurut Susan Cain, perlu menyadari kemungkinan suara karyawan introvert yang tidak didengar di lingkungan kerja perusahaan. Bisa saja karyawan extrovert yang dominan menguasai diskusi atau brainstorming. Hal itu tentunya kurang menguntungkan; pemikiran karyawan introvert yang bagus bisa terlewatkan, tak muncul dalam brainstorming.

Susan Cain juga menyoroti kebijaksanaan perusahaan membuat ruang kerja terbuka. Karyawan introvert bisa saja kehilangan konsentrasi duduk di ruang terbuka, produktivitasnya jadi menurun. Karyawan introvert cenderung mengolah pikirannya, membutuhkan tempat yang ‘nyaman’ untuk berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaan.

Berpikir Sebelum Berbicara

Seperti yang dikatakan Carl Jung, kecenderungan extroversion dan introversion berada dalam continuum. Seorang introvert bisa saja berubah menjadi lebih terbuka, bergerak ke extrovert. Pengaruh lingkungan, pengaruh pergaulan, tuntutan pekerjaan, jabatan yang diemban, pelatihan yang dijalani, dan berbagai keadaan yang dialami bisa membuat perubahan itu.

Plato, seorang filsuf Yunani kuno, mengatakan, orang bijak akan berbicara pada saat ia perlu mengatakan sesuatu; sementara orang bodoh berbicara karena ia merasa harus berbicara (speak for the sake of speaking). Apa yang dikatakan Plato sejalan dengan pemikiran Carl Jung: orang introvert berpikir sebelum berbicara, orang extrovert menyuarakan apa yang muncul di kepalanya tanpa berpikir lebih dalam.

Saran dan tips pengembangan diri bagi orang introvert bisa ditemukan di media elektronik. Mereka didorong untuk lebih banyak berbicara dan berani keluar dari zona nyaman. Namun jarang ditemukan saran dan tips bagi orang extrovert, agar mereka jangan berbicara terus dan belajar menciptakan zona nyaman bagi orang lain.