
Karyawan pindah ke perusahaan lain dengan alasan masing-masing: ditawarkan gaji lebih tinggi, promosi jabatan di perusahaan baru, pekerjaan yang ditangani kurang menantang, kesempatan karier yang lebih baik, lingkungan kerja yang kurang sehat di perusahaan sekarang, hubungan atasan dan bawahan yang tidak harmonis, lokasi kerja jauh dari tempat tinggal, dan lain-lain.
Kesempatan Menarik
Bayu memulai kariernya di suatu perusahaan nasional. Selama dua belas tahun ia bekerja di perusahaan nasional itu. Penghasilan yang diperoleh bisa membiayai kehidupan keluarganya. Kariernya pun berjalan dengan baik. Ia sudah berada di jenjang pimpinan unit, melapor kepada Kepala Divisi dalam Departemen Teknologi Informasi.
Di suatu ketika, agen pencarian eksekutif (executive search) menghubungi Bayu. Profil dirinya di platform LinkedIn menarik perhatian agen executive search itu. Ada lowongan pekerjaan di perusahaan lain, kompetensi yang dimilikinya terlihat sesuai dengan pekerjaan tersebut. Demikian informasi yang disampaikan agen tadi.
Selain gaji dan program kesejahteraan karyawan yang lebih baik di perusahaan lain itu, ada peluang naik ke tingkat jabatan lebih tinggi, melapor langsung pada Direktur Teknologi Informasi. Bayu tertarik pada kesempatan yang ada. Tak ada salahnya mencoba suasana baru di tempat baru. Apalagi executive search tadi meyakinkannya, lowongan di perusahaan tersebut merupakan peluang yang akan melengkapi nilainya di bursa kerja.
Ia pun menjalani proses wawancara dengan pihak perusahaan yang mencari tenaga kerja. Ternyata ia terpilih di antara beberapa kandidat. Ia menyambut tawaran pekerjaan itu, dan mengajukan pengunduran diri dari perusahaan.
Perusahaan Baru
Dengan semangat tinggi Bayu memulai hari-harinya di perusahaan baru. Pekerjaannya cukup menantang, banyak hal baru yang harus dipelajari. Beberapa anak buah membantu dalam timnya.
Dalam dua bulan pertama bekerja di perusahaan itu, Bayu mendapati ritme kerja yang berbeda. Semuanya berlangsung serba cepat, dikejar waktu. Tugas harus diselesaikan dalam kurun waktu yang ketat. Akibatnya karyawan cenderung bekerja dalam senyap, waktu bersosialisasi dengan rekan kerja sangat kurang.
Keadaan di atas membuatnya menilai, hubungan antar karyawan kurang hangat, termasuk hubungan antar atasan-bawahan. Sangat berbeda dengan pengalamannya di perusahaan sebelumnya. Ia terbiasa dengan pendekatan ‘kekeluargaan’ di perusahaan lama. Suasana kantor tak hanya kerja dan kerja. Budaya perusahaan lama menekankan kebersamaan, membuat ia betah bekerja lama di perusahaan itu. Mungkin budaya kerja seperti itu yang cocok dengan kepribadiannya.
Tuntutan bekerja cepat mulai membuatnya kurang beristirahat. Beberapa proyek berjalan pada saat yang bersamaan. Proyek-proyek itu memiliki timeline masing-masing, timeline yang saling berlomba menyita waktunya. Perusahaan itu sedang membuat perubahan sistem teknologi, departemen terkait yang akan menggunakan teknologi baru sudah tak sabar menunggu.
Sang Atasan
Selain beban kerja, Bayu juga merasa tidak nyaman setiap kali menghadap atasan, Direktur Teknologi Informasi. Gaya kepemimpinan Direktur itu berbeda dengan pemimpin yang biasa dihadapi di perusahaan dulu. Suara atasannya keras bernada tinggi, tak ada basa basi, langsung pada apa yang ingin dikatakan. Dan sering kali terselip kata-kata teguran yang bernada amarah.
Bayu mulai merasa takut setiap kali harus menghadap atasan. Atasan yang kerap marah-marah selalu menghantui. Pekerjaan tak bisa lepas dari pikirannya, walau ia sudah berada di rumah. Ia jadi sulit tidur, jantung terasa berdebar, tubuh berkeringat walau pendingin udara menyala dalam ruangan. Kurang tidur membuat kondisi fisiknya menurun. Ia sulit berkonsentrasi, membuat pekerjaan semakin sulit diselesaikan, semuanya berdampak pada kinerja.
Bayu mulai mendengar suara-suara. Suara-suara itu menyudutkannya, menuduh ia seorang pecundang, karyawan yang tak berguna. Semakin hari suara-suara itu semakin sering muncul. Ia merasa tak sanggup bangun di pagi hari, bangun berarti harus berangkat ke kantor.
Kegalauannya memuncak. Sekarang ia mangkir, benar-benar tak bisa masuk kantor. Hanya masa depan suram yang ada dalam pikirannya. Ia mulai berpikir untuk mengakhiri hidupnya.
Bayu tak menyadari, tekanan pekerjaan dan atasan yang sering marah-marah, telah membuatnya mengalami gangguan kesehatan mental. Ia membutuhkan pertolongan…
Dapatkan Bantuan
Matt Haig, seorang penulis asal Inggris, pernah mengalami depresi pada usia muda. Pengalamannya bangkit dari depresi mendorongnya menulis beberapa buku yang berhubungan dengan kesehatan mental. Ia menguatkan para penderita depresi dengan mengatakan, gangguan kesehatan mental bukanlah diri seseorang yang sesungguhnya. Gangguan kesehatan mental adalah suatu keadaan yang dialami seseorang. Orang itu berjalan dalam hujan, merasakan hujan, namun ia bukanlah hujan itu. Ia hanya berada di bawah guyuran air hujan.
Karyawan yang mengalami gangguan kesehatan mental seperti Bayu perlu mendapat pertolongan. Perusahaan memiliki kewajiban untuk membantu karyawan yang berada dalam kondisi seperti Bayu. Selain mengirim karyawan ke Psikolog, atau Psikiater, atau Rumah Sakit untuk mendapatkan penanganan yang tepat, perusahaan perlu memperbaiki suasana kerja guna mendukung kenyamanan dan keamanan karyawan secara fisik dan mental.