
Berbagai cara dilakukan generasi muda untuk mendapatkan pendidikan di luar negeri. Melalui beasiswa pemerintah, beasiswa dari universitas tempat kuliah, atau fasilitas pinjaman mahasiswa (student loan) yang disediakan universitas penyelenggara pendidikan.
Bagi yang mengincar pendidikan di negeri Paman Sam, kuliah di community college menjadi salah satu jalan. Community college menghasilkan sarjana diploma tiga (D3) yang disebut Associate Degree. Kuliah di community college lebih ekonomis dibandingkan kuliah langsung di universitas; biaya kuliah lebih murah karena keberlangsungan akademi negeri itu dibantu pemerintah setempat. Setelah mendapatkan Associate Degree dari community college, mahasiswa bisa melanjutkan kuliah ke program sarjana penuh (S1) di universitas negeri atau swasta di Amerika.
Los Altos
Demi mendapatkan pendidikan di negeri Paman Sam dengan biaya hemat, kedua putri dalam keluarga menjalani kuliah di community college selama dua tahun.
Dari penelusuran yang dilakukan putri sulung, ia memilih kuliah di Foothill College, salah satu community college di negara bagian California. Foothill College berada di Los Altos Hills, termasuk dalam kabupaten Santa Clara (Santa Clara County).
Saya dan putri sulung menaiki penerbangan internasional menuju San Fransisco sebelum ke Los Altos. San Fransisco merupakan kota terbesar terdekat yang menjadi salah satu entry gate di pesisir Barat, jalur udara masuk ke Amerika Serikat. Perjalanan dari San Fransisco ke Los Altos memakan waktu sekitar empat puluh menit dengan taksi.
Jalan menuju kampus menanjak; sebutan Los Altos Hills sesuai dengan letaknya yang berada di bukit. Letak di perbukitan itu membuat angin sepoi-sepoi terasa bertiup saat saya mengantar putri sulung mendaftar ulang di kampus.
Walau ada apartemen yang letaknya dekat dengan Foothill College, putri sulung memilih menyewa kamar kost di rumah penduduk lokal di Los Altos. Pilihannya jatuh pada rumah keluarga Vietnam yang telah bermigrasi dan menjadi warga negara Amerika.
Rumah keluarga Vietnam itu bagus, lingkungannya juga bagus. Los Altos memang dikenal sebagai area pemukiman orang-orang berkemampuan ekonomi menengah ke atas.
Namun keputusan tinggal di rumah keluarga lokal membawa tantangan tersendiri. Putri sulung harus menaiki transportasi umum bus menuju kampus. Sementara bus rute Foothill College hanya beroperasi hingga pukul lima sore; dengan kata lain sudah tak ada bus yang bisa ditumpangi dari kampus Foothill College setalah pukul lima sore.
Tentu sulit membatasi diri meninggalkan kampus sebelum pukul lima sore; ada saja jadwal kuliah yang jatuh di sore hari, kerja kelompok yang berlangsung hingga sore hari, kebutuhan belajar di perpuskaan yang waktunya bisa molor, dan lain-lain. Pantas saja banyak kendaraan mahasiswa yang terlihat di lapangan parkir kampus yang cukup luas; banyak mahasiswa yang membawa kendaraan sendiri.
Putri sulung pun memutuskan membeli mobil bekas agar tak tergantung pada transportasi umum. Walau memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) di tanah air, namun lumayan jarang ia menyetir mobil di Jakarta. Sekarang ia akan mengemudi menggunakan SIM internasional di negeri orang, di negeri yang ketat dengan peraturan lalu lintasnya.
Rasa was-was menyertai saat putri sulung mengendarai mobil ke kampus setiap hari. Khawatir menyetir di jalan berbukit menimbulkan masalah, khawatir terjadi pelanggaran lalu lintas (maklum polisi di negeri Paman Sam tak bisa disogok), khawatir terjadi tabrakan (menabrak atau ditabrak).
Ternyata, selama dua tahun mengendarai mobil sendiri di Los Altos, putri sulung hanya sekali melakukan kesalahan minor. Ia parkir di dekat hydrant pemadam kebakaran; tak menyadari bahwa tak boleh parkir di situ, dianggap menghalangi penggunaan hydrant jika tiba-tiba terjadi kebakaran. Ia terpaksa membayar tilang sebesar $10. Tingkat kepercayaan polisi lumayan tinggi, tilang hanya ditempel di kaca depan mobil. Putri sulung cukup mengirimkan cek dana ke alamat yang tertera di surat tilang.
Cupertino
Ketika tiba saatnya putri bungsu kuliah, ia mencari community college di negara bagian California juga. Ada catatan khusus saat memilih: putri bungsu tak mahir menyetir. Belajar dari pengalaman putri sulung yang harus mengendarai kendaraan sendiri setiap kali ke kampus, putri bungsu memilih kuliah di De Anza College, community college yang berada di area Cupertino.
Cupertino termasuk dalam Santa Clara County, sama dengan Los Altos. Tempat tinggal putri sulung di Los Altos dan putri bungsu di Cupertino tidak jauh, bisa ditempuh dalam lima belas menit dengan kendaraan.
Dalam beberapa kali kunjungan ke Los Altos dan Cupertino, tak pernah menghadapi kemacetan jalan. Termasuk saat berjalan-jalan ke Palo Alto yang juga berada di Santa Clara County. Palo Alto dikenal di Amerika, kota itu menjadi pusat beberapa perusahaan teknologi ternama: Apple, Google, Facebook, Logitech, Terla, Pinterest, Paypal, dan lain-lain.
Beruntung ada seorang teman putri bungsu yang juga melanjutkan kuliah di De Anza College. Mereka saling mengenal sejak kecil, bersekolah di sekolah yang sama sejak Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Pertemanan mereka mempermudah pengurusan kuliah di De Anza College. Penerbangan dari Jakarta menuju San Fransisco pun menjadi lebih ramai, ada dua keluarga yang berangkat bersama: keluarga saya dan keluarga teman putri bungsu tadi.
Jika pengetahuan tentang area Santa Clara County minim saat mengantar putri sulung ke Los Altos, perjalanan mengantar putri bungsu dibantu pengalaman sebelumnya. Kali ini rombongan menaiki CalTrain dari bandara San Fransisco menuju Cupertino. CalTrain fasilitas kereta komuter yang menghubungkan San Fransisco dengan kota-kota di sekitarnya. Biaya lebih hemat dibandingkan naik taksi. CalTrain berhenti di stasiun Mountain View yang berada di Santa Clara County. Dari stasiun kereta bisa naik taksi ke hotel tempat menginap selama pengurusan kuliah De Anza College.
Putri bungsu dan temannya memutuskan untuk menjadi roommate, menyewa apartemen berisi dua kamar tidur. Hunting mencari apartemen terasa lebih ringan karena dilakukan bersama-sama. Pilihan jatuh pada Archstone Apartment yang berada di Stevens Creek Boulevard, Cupertino. Apartemen itu terlihat terawat rapi, keamanannya terjaga.
Keputusan strategis memilih Archstone Apartment karena De Anza College juga berada di Stevens Creek Boulevard. Cukup satu kali naik bus dari Archstone Apartment menuju kampus dan pulang dari kampus. Stevens Creek Boulevard jalan besar, bus berbagai rute melalui jalan raya ini. Tak perlu takut batasan waktu untuk mendapatkan bus di jalan ini, bus lalu lalang hingga malam hari. Lokasi De Anza College berada di jalan datar, tak berbukit.
Belajar Mandiri
Hidup jauh dari orangtua untuk pertama kali melatih kemandirian dengan segala suka dukanya. Putri sulung cenderung makan di luar rumah, sementara putri bungsu dan temannya memilih masak sendiri untuk memastikan makanan sehat dan menghemat biaya.
Putri sulung tak pernah telat membayar induk semang, selalu ingat periode membayar sewa kamar. Putri bungsu dan temannya beberapa kali terlambat membayar sewa apartemen, sehingga dikenakan penalti. Mengatur keuangan mempunyai tantangan tersendiri, maklum terbiasa semuanya ditangani orangtua saat tinggal di tanah air.
Menggunakan transportasi umum menjadi kebiasaan, informasi jadwal bus selalu siap diakses. Termasuk jadwal CalTrain, saat ingin berjalan-jalan ke San Fransisco.
Putri sulung pun mampu mencari tempat tinggal sendiri saat saya sudah kembali ke tanah air. Setelah tiga bulan mondok di rumah keluarga Vietnam, kamar yang ditempatinya dinyatakan tidak disewakan lagi, akan digunakan untuk keperluan keluarga. Muncul dugaan, hal itu terjadi karena putri sulung tak bersedia membantu menjaga toko keluarga Vietnam tadi, sementara seorang mahasiswa lainnya yang mondok di rumah itu selalu siap membantu (tanpa dibayar). Keluarga Vietnam itu mengelola toko minuman keras, buka sepanjang hari.
Putri sulung terpaksa sibuk mencari tempat tinggal baru, beruntung mendapatkan kamar dengan fasilitas kamar mandi sendiri di rumah seorang ibu tua kulit putih yang tinggal sendiri di rumahnya. Apalagi kamar itu terletak terpisah dari rumah utama, seperti paviliun yang letaknya di belakang rumah.
Makanan Asia
Sangat mudah mencari makanan Asia di Santa Clara County, termasuk restoran yang menyajikan makanan Indonesia yang dikelola orang Indonesia (mungkin sudah jadi warga negara Amerika). Restoran yang menyajikan Pho, mie Vietnam dengan kuah yang lezat rasanya, bisa ditemukan di beberapa tempat.
Restoran yang menyajikan makanan Thai biasanya tidak murah, namun saya dan keluarga tak melewatkan makan siang di restoran Amarin Thai Cuisine di Castro Street, Mountain View. Restoran itu selalu penuh pengunjung. Kelezatan makanannya membuat keluarga saya beberapa kali makan siang di restoran itu. Porsi makanan banyak, sesuai dengan perut ‘orang bule’ yang cenderung makan banyak.
Menimbang porsi makanan yang banyak itu, keluarga saya yang terdiri dari empat orang, sengaja memesan nasi untuk tiga orang agar nasi tidak berlebih. Nasi selalu disajikan dalam bakul makanan, sehingga bisa mengambil nasi sesuai dengan kebutuhan. Ketika sedang menyantap makanan, salah seorang pegawai restoran berdarah Thai (mungkin pemilik) terlihat melintasi meja makan keluarga saya beberapa kali. Matanya mengamati hidangan di meja sambil melintas.
Keluarga saya kembali mampir ke Amarin Thai Cuisine untuk makan siang di kesempatan lain. Seperti kunjungan sebelumnya, diputuskan memesan nasi untuk tiga orang saja. Apa yang terjadi? Bakul nasi yang datang berisi hanya sedikit nasi, cukup untuk dua orang saja. Porsi itu tentu tak cukup, terpaksa memesan nasi tambahan lagi. Saat itu barulah keluarga saya menyadari, restoran itu memperhatikan kebiasaan keluarga yang memesan sedikit nasi, lalu sengaja ‘membuat situasi’ agar keluarga menambah pesanan nasi.
Lumayan terkejut dengan pengalaman itu. Apalagi dilakukan dengan sesama kaum bangsa Asia. Harga nasi tak seberapa dibanding dengan harga lauk restoran. Bahkan di tanah air, nasi yang disajikan di piring bisa dibagi dua dengan sesama anggota keluarga jika ingin mengurangi asupan karbohidrat. Keuntungan restoran biasanya didapatkan dari penjualan lauk dan minuman, bukan nasi.
Pengalaman ‘dijahili’ Amarin Thai Cuisine membuat saya dan keluarga tak pernah kembali ke Amarin Thai Cuisine sampai kedua putri menyelesaikan pendidikan di community college di Santa Clara County. Pemilik restoran itu merusak citra orang Thailand, yang biasanya sopan dan ramah.