Adriani Sukmoro

Maestro

Rapat yang melibatkan seluruh karyawan atau Employee Townhall dilakukan salah satu perusahaan tempat bekerja dulu secara berkala, setiap enam bulan. Biasanya di awal tahun dan pertengahan tahun, dipimpin langsung oleh Chief Executive Officer (CEO) perusahaan. Tujuannya untuk membagi informasi kepada karyawan tentang kinerja perusahaan: penyelarasan visi misi, target bisnis tahun itu, pencapaian, tantangan pasar, inovasi bisnis, dan berbagai informasi penting lainnya.

Guest Speaker

CEO menjadi pembicara tunggal dalam Employee Townhall. Maklum, kegiatan yang melibatkan seluruh karyawan di Jakarta itu tak bisa berlama-lama. Karyawan harus segera kembali ke kantor untuk bekerja seperti biasa, apalagi kegiatan itu terpaksa dilakukan di luar kantor, menyewa tempat yang bisa mengakomodasi karyawan dalam jumlah besar. Walau tempat yang disewa dekat kantor, tetap saja dibutuhkan waktu untuk kembali ke kantor.

Beberapa bulan sebelum kegiatan Employee Townhall pertengahan tahun itu, CEO mengutarakan ide untuk mengundang pembicara dari luar perusahaan (Guest Speaker). Ia ingin menekankan pentingnya kepemimpinan dan kerja sama tim (teamwork). Target yang dikejar perusahaan tahun itu cukup menantang, CEO ingin memotivasi karyawan dengan mendengar pesan dari pembicara luar.

CEO menyerahkan tugas mencari Guest Speaker yang pantas ditampilkan sesuai dengan tema kepemimpinan dan teamwork kepada saya sebagai pimpinan Departemen Sumber Daya Manusia (SDM). Penyeleksian pun dimulai, dibicarakan bersama tim terkait di departemen.

Beberapa nama tersaring. Nama-nama itu dipaparkan pada CEO, kesemuanya mempunyai relevansi dengan topik kepemimpinan dan teamwork. Diskusi dengan CEO penting, masukan beliau sebagai host Employee Townhall menjadi dasar keputusan Guest Speaker yang akan diundang perusahaan. CEO itu terkesan dengan semua nama yang diajukan.

Akhirnya beliau memilih Addie Muljadi Sumaatmadja atau yang lebih dikenal dengan Addie MS, pendiri Twilite Orchestra, kelompok musik simfoni yang termashyur di negeri ini. Prestasi Addie MS sebagai musikus, komponis, penulis lagu, konduktor dan produser rekaman sudah dikenal luas di negeri ini. Ia juga telah membawa Twilite Orchestra tampil di panggung dunia, antara lain tampil di Sydney Opera House di Sydney, Konzerthaus di Berlin, Slovak National Theatre di Bratislava, dan Melia Hotel di Hanoi, Vietnam.

Membumi

Di suatu siang, Addie MS muncul di ruang kerja saya, di lantai Departemen Sumber Daya Manusia (SDM). Ia datang seorang diri, tak membawa asisten, atau sekretaris, atau tenaga pembantu yang biasanya mendampingi sosok terkenal dan sibuk. Penampilannya sederhana, mengenakan jeans dan blus putih lengan panjang. Ia hanya membawa laptop. Jadwal kegiatan beliau yang padat ada di dalam laptop itu.

Pertemuan dengan Addie MS siang itu bertujuan untuk menyamakan pemahaman tentang kegiatan Employee Townhall dan topik yang perlu dipaparkan beliau sebagai Guest Speaker. Berbicara dengan Addie MS terasa nyaman, ia bersikap terbuka dan mengelaborasi bersama pihak perusahaan. Pertemuan menjadi efektif dan mendapat gambaran bagaimana ia akan menunjukkan teamwork dan leadership melalui pemaparan dan contoh nyata.

Anggota tim SDM pun tak mau melewatkan kesempatan, meminta berfoto bersama Addie MS sebelum ia meninggalkan ruang kerja saya. Dengan ramah Addie MS meladeni permintaan itu, penampilannya yang membumi membuat suasana cair dan menyegarkan.

Kerja Kelompok Pemusik

Di hari H, karyawan memadati ruang pertemuan Employee Townhall dengan keingintahuan. Tahun itu menjadi berbeda, seorang tamu pembicara dari luar perusahaan berada di panggung.

Figur Addie MS menjadi daya tarik tersendiri. Ia berdiri dengan tenang di panggung yang lebar, memaparkan ‘perjalanannya’: mengenal musik, menekuni musik, mengenal diri sendiri, mendirikan Twilite Orchestra, hingga pencapaiannya di bidang musik.

Namanya mulai ramai ditulis di media cetak ketika ia diminta Titiek Hamzah untuk menata musik dan menjadi konduktor lagu ‘Sayang’ yang diciptakan Titiek Hamzah dalam Festival Internacional de la Cancion di Chili tahun 1983. Saat itu Addie MS berusia dua puluh empat tahun, usia yang sangat muda untuk tampil sebagai konduktor musik orkestra, apalagi penampilan itu di negeri orang. Momentum itu seolah penegasan akan talenta kepemimpinan yang dimiliki Addie MS dalam dunia musik orkestra.

Kisah menarik lainnya yang diceritakan Addie MS di panggung, saat ia memimpin Twilite Orchestra dan Victorian Philharmonic Orchestra merekam ulang lagu Indonesia Raya dalam bentuk digital di Melbourne, Australia tahun 1998. Sebelumnya lagu kebangsaan yang biasa diputar di berbagai acara negeri ini merupakan hasil rekaman analog sehingga kualitas rekamannya kurang bagus. Apa yang dilakukan Addie MS menjadi kontribusinya bagi negeri, hasil rekaman digital lagu Indonesia Raya itu yang sekarang digunakan secara resmi oleh semua pihak dalam berbagai kegiatan di tanah air.

Addie MS juga menjelaskan peran yang dilakukannya sebagai konduktor orkestra, serta peran masing-masing pemain musik yang menghasilkan melodi indah. Ia sengaja membawa beberapa pemain alat musik gesek atau string saat pemaparannya: seorang pemain biola (violin), seorang pemain biola alto (viola), seorang pemain selo (cello), dan seorang pemain kontrabas (double bass). Melalui permainan keempat pemusik gesek itu, Addie MS menunjukkan bagaimana kerja sama menghasilkan melodi, sesuai arahan yang diberikan pemimpin musik. Tepuk tangan pun terdengar riuh ketika Addie MS dan para pemusik melantunkan lagu perusahaan yang biasa dinyanyikan di berbagai kegiatan besar perusahaan.

Pesan tentang pentingnya kerja sama yang disampaikan Addie MS mengena. Melodi yang dilantunkan orkestra adalah hasil kerja kelompok pemusik:

  • Persiapan sebelum penampilan merupakan keharusan. Setiap pemusik terlibat untuk berlatih bersama, sehingga kehadiran saat latihan merupakan bentuk kedisiplinan dalam kerja sama simfoni orkestra. Sama halnya dengan perusahaan, yang perlu mematangkan berbagai hal sebelum meluncurkan produk, atau jasa pelayanan, atau kegiatan perusahaan lainnya yang berdampak pada pelanggan.
  • Setiap pemusik berperan menghasilkan nada dari alat musik yang dimainkannya. Tercipta harmoni nada-nada indah dari kolaborasi para pemusik itu. Bisa saja pemain biola, atau pianis, atau terompet ditampilkan secara solo, tapi tetap saja permainan mereka harus terpadu dengan keseluruhan musik orkestra, tak ada yang bisa lepas bermain musik sendiri. Sama halnya dengan perusahaan, bisa saja suatu departemen melakukan proyek tertentu, namun tetap saja departemen itu perlu dukungan dari departemen lainnya, baik dari segi teknologi, keabsahan (legal), kepatuhan pada peraturan (compliance), pendanaan, manajemen risiko, sumber daya manusia, dan lain-lain.
  • Kemampuan mendengar sesama pemusik penting, agar bisa menyelaraskan tingkat kekuatan suara, dinamika, memahami kapan memainkan alat musik, kapan berhenti, kapan mempercepat dan memperlambat tempo musik, sehingga melodi yang dimainkan dinikmati pendengar atau penonton. Sama halnya dengan perusahaan, penting bagi setiap individu dari departemen yang berbeda-beda untuk mendengar tujuan pekerjaan yang dilakukan bersama, dan memahami tugas masing-masing demi menyukseskan kegiatan yang dilakukan.

Konduktor Bertoleransi

Kepiawaian Addie MS menjadikan ia dijuluki sebagai Maestro musik, yang dalam bahasa Inggris disebut Master of Music. Ia masuk dalam nominasi Anugerah Musik Indonesia (AMI), nominasi Penata Musik Terbaik Festival Film Indonesia (FFI), dan mendapat penghargaan Karya Bakti Musik dari Pemerintah Indonesia atas jasanya dalam membangun dunia musik Indonesia. Ia juga menjadi penata musik (music director) sajian spektakuler Asian Games 2018.

Sang Maestro ini dikenal mendorong toleransi, seperti yang ditulis dalam Instagramnya: “Kehangatan persahabatan dan kekeluargaan terlalu berharga untuk terhenti hanya karena warna baju yang berbeda”. Ia menunjukkan toleransinya yang tinggi melalui partisipasi Twilite Orchestra dalam perayaan berbagai kegiatan agama: mengisi acara Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Delta Sidoarjo, Jawa Timur; memeriahkan The Magic of Christmas bersama Profesional dan Usahawan Katolik (PUKAT) Keuskupan Agung Jakarta di Ciputra Artpreneur Theatre; tampil di acara Terima Kasih Ibu bersama Yayasan Buddha Tzu Chi di DAAI TV, dan lain-lain.

Pesan Addie MS tentang pentingya peran pemimpin orkestra atau konduktor sangat relevan bagi pemahaman karyawan:

  • Seorang konduktor harus mampu menginterpretasikan gubahan komposer yang akan dimainkan, dan mengomunikasikan pada para pemusik orkestra agar pemahaman yang sama dimiliki setiap pemusik. Demikian pula pimpinan perusahaan, harus mampu mengomunikasikan visi, misi, dan tujuan yang akan dicapai perusahaan, serta bagaimana cara mencapai tujuan itu.
  • Seorang konduktor tak bersuara dan tak memainkan alat musik. Ia mengarahkan pandangan kepada para pemusik, memberi instruksi melalui tongkat dirigennya. Para pemusik memainkan instrumennya mengikuti instruksi melalui sinyal tongkat dirigen, hingga melodi yang diinginkan terdengar. Demikian pula pimpinan perusahaan memberi pengarahan dan memonitor; eksekusi kegiatan perusahaan dilakukan manajer, supervisor, karyawan. Semua lapisan bertingkat dalam organisasi bekerja bersama mewujudkan tujuan perusahaan.
  • Seorang konduktor harus mampu menyatukan keahlian para pemusik dengan alat musik yang berbeda-beda, sehingga kesatuan itu menghasilkan nada-nada indah. Hal yang sama terjadi dalam perusahaan. Berbagai kompetensi karyawan dan bidang kerja dalam perusahaan harus disatukan melalui rangkaian prosedur dan proses. Pemaduan itu seyogianya mampu menciptakan kerja sama yang membawa perusahaan pada keberhasilan pencapaian tujuan.
  • Seorang konduktor tak mencari kejayaan sendiri. Konduktor menghadap ke arah segenap pemain musik untuk mengarahkan, sehingga penonton hanya melihat punggungnya. Yang diperhatikan penonton adalah para pemain musik dan menikmati melodi. Demikian pula dalam perusahaan, ketika kinerja bisnis menunjukkan hasil positif, penting bagi pemimpin untuk menunjukkan bahwa keberhasilan itu akibat dukungan manajer, supervisor, dan karyawan perusahaan. Jangan sampai pemimpin perusahaan menikmati sendiri keberhasilan kinerja bisnis.

Seseorang bisa saja pemusik atau konduktor yang andal. Tapi ia tak akan bisa menjadi pemain musik orkestra atau konduktor orkestra jika tidak berminat bekerja sama, atau ingin tampil bersinar sendiri. Jika departemen dalam perusahaan saling bersaing untuk menjadi yang terhebat, hanya mala petaka yang akan terjadi. Departemen lain yang kecewa, atau kesal, atau tak dilibatkan, atau tak didengar pendapatnya; bisa bekerja asal-asalan dan kurang mendukung departemen penggagas kegiatan.