Adriani Sukmoro

Pat On The Back

Seseorang yang merasa dihargai pekerjaannya, cenderung berusaha melakukan lebih dari yang diharapkan di lain kesempatan. Dihargai merupakan kebutuhan emosional, erat kaitannya dengan motivasi dalam bekerja.

Terlihat dan Berkontribusi

Tomo, seorang karyawan di suatu perusahaan, memiliki atasan yang berada di level Supervisor. Supervisor itu melapor kepada atasannya, seorang Manajer. Sang Manajer melapor kepada Direktur yang mengepalai departemen. Demikianlah jenjang struktur dalam operasional sehari-hari yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas Tomo.

Tomo melaksanakan pekerjaan sesuai tugas yang diserahkan padanya. Ia pekerja cekatan, berpikir analitis, dapat diandalkan. Namun hasil kerjanya yang bagus kurang mendapat penghargaan. Mengapa hal itu terjadi?

Berbagai kemungkinan bisa menyebabkan situasi demikian. Tomo yang berada beberapa tingkat di bawah pimpinan departemen tadi mungkin ‘tak terlihat’. Ia bagian dari tim departemen, namun hasil kerja yang disampaikan ke atasan kurang mendapat exposure. Kadang-kadang rutinitas kantor membuat penugasan adalah kewajiban, setiap karyawan memang diharapkan menyelesaikan tugas dengan baik. Hasil kerja yang baik menjadi terlewatkan seperti rutinitas kehidupan kantor.

Situasi semakin kurang menguntungkan jika atasan Tomo tak pernah menyampaikan ke Manajer atau Kepala Departemen, bahwa pekerjaan itu diselesaikan Tomo dengan baik.

Sering kali karyawan pada posisi di bawah tidak memiliki sarana komunikasi untuk menyampaikan hasil kerjanya yang bagus kepada petinggi departemen. Walaupun ada sarana komunikasi, sering kali rasa sungkan menonjolkan hasil kerja secara terbuka kepada petinggi departemen menjadi penghalang. Seolah ada aturan etika tak tertulis yang mengatakan, jangan melangkahi atasan langsung untuk ‘mendapatkan perhatian’ petinggi departemen.

Situasi yang dialami Tomo di atas bisa juga disebabkan masalah favoritism, ada keberpihakan pada karyawan tertentu yang disukai atasan. Karyawan yang disukai mungkin pintar berkomunikasi, mampu mengambil hati atasan; sementara Tomo cenderung bekerja tanpa banyak bicara. Sang atasan mungkin saja tak menyadari favoritism yang dilakukannya. Anak buah yang gampang berkomunikasi memang cenderung menjadi dekat dengan atasan, seolah memiliki jalan untuk menarik perhatian atasan.

Kecewa dan Marah

Penghargaan atas hasil kerja yang baik layak dinikmati seseorang. Hal itu sudah terbentuk sejak kecil. Murid yang tekun belajar dan kerap mendapat nilai ujian bagus menjadi juara kelas, penghargaan atas prestasi belajar. Mahasiswa yang bekerja keras menyelesaikan kuliahnya mendapat ‘hadiah’ dalam bentuk gelar sarjana. Hal yang sama juga berlaku dalam kehidupan organisasi perusahaan. Karyawan yang bekerja baik layak mendapat penghargaan atas hasil kerjanya.

Kecewa tak mendapat penghargaan atas hasil kerja yang baik menimbulkan perasaan tak menyenangkan dalam diri. Hal itu bisa membuat karyawan meragukan kemampuan diri, atau frustrasi, atau bahkan menimbulkan rasa marah yang berujung pada ketidaksukaan terhadap atasan dan pimpinan di departemennya. Apalagi jika ada karyawan lain di departemen itu yang lebih mendapat perhatian atasan. Karyawan tadi bisa sulit tidur memikirkan kekecewaan yang dialami.

Rasa kecewa dan marah akan membuat motivasi kerja karyawan rendah, sulit berkonsentrasi pada pekerjaan di kantor.

Menghargai Diri Sendiri

Apa yang dapat dilakukan dalam menghadapi situasi seperti di atas?

Beberapa karyawan yang merasa kurang dihargai kinerjanya memilih pindah perusahaan. Namun, ada juga karyawan yang memberi waktu pada situasi. Atasan bisa berganti, atasan baru mungkin akan lebih baik. Atau karyawan favorit yang pintar berkomunikasi itu pindah kerja atau pindah bagian, membuat atasan bisa melihat karyawan lain selain karyawan favorit. Atau ada proyek penting yang benar-benar membutuhkan kualitas kerja seperti yang dimilikinya, membuat para pimpinan departemen menyadari kemampuan kerjanya.

Harapan perubahan sedemikian bisa mendorong motivasi Tomo. Selain itu, Tomo bisa memusatkan perhatian pada kemajuan yang telah dialami dalam perusahaan: keterampilan yang diperoleh selama bekerja, peningkatan kemampuan dalam hal-hal tertentu, serta memahami diri lebih baik tentang kelebihan dan area yang perlu dikembangkan.

Memusatkan perhatian pada diri bisa membawa Tomo menghargai diri sendiri. Ia tahu ia berkontribusi, hasil kinerjanya tak mungkin dinilai jelek, hanya saja ia kurang mendapat exposure. Ia bisa merayakan keberhasilannya secara pribadi, tanpa bergantung pada pujian orang lain.

Merayakan keberhasilan secara pribadi bisa dilakukan dengan berbagai cara. Pada umumnya dilakukan melalui hal-hal yang disukai. Misalnya, membeli makanan atau minuman yang disukai, menonton film yang disukai, melakukan hiking di akhir pekan (bagi yang suka naik gunung), menanam pohon atau tumbuhan bagi yang suka mengurus tanaman, menulis ucapan selamat secara singkat pada diri sendiri atas keberhasilan kerja dan menempelnya di seputar meja kerja di kantor atau di kamar tidur pribadi. Intinya, sediakan waktu (Me Time) untuk melakukan hobi atau minat pribadi demi merayakan hasil kerja yang baik.

Keseimbangan

Ungkapan terima kasih sering dilakukan dengan menepuk bahu seseorang. Pat on the back, istilah yang digunakan untuk menggambarkan ungkapan terima kasih itu. Tak hanya bisa dilakukan orang lain, seseorang dapat menepuk bahunya sendiri untuk menghargai diri pribadi atas hasil kerja yang baik.

Pat on the back memberi dampak positif, bisa membangkitkan kepercayaan diri. Mengakui hasil kerja yang baik berarti memahami kemampuan diri, dan bisa mendorong seseorang untuk berani menerima tantangan berikutnya.

Mengambil waktu untuk merayakan hasil kerja bisa meningkatkan kesehatan mental. Me Time membuat seseorang benar-benar fokus pada dirinya saat itu, menikmati waktu saat melakukan hobi atau hal yang disukai, menciptakan rasa senang (good mood), memadamkan kekecewaan atau kejenuhan.

Melatih diri menepuk bahu sendiri untuk hasil kerja yang baik adalah proses seseorang melatih dirinya lepas dari kebutuhan validasi, pengakuan dari orang lain. Walau pasti senang jika orang lain mengakui prestasi kerja, namun ketergantungan akan validasi berkurang, tak menjadi beban yang membuat seseorang gelisah, galau, tak bisa tidur.

Pat yourself on the back membawa keseimbangan dalam diri. Ada yang mengatakan, jangan biarkan orang lain membuatmu menjadi rendah diri. Rasa rendah diri timbul dalam diri seseorang karena orang itu membiarkan perasaan rendah diri berkembang dalam dirinya. No one can make you feel inferior without your consent.