Adriani Sukmoro

Penakluk Ujung Dunia

Hari itu sebuah paket berisi buku tiba di rumah. Buku berjudul Penakluk Ujung Dunia, dikirim Tonggo Pardede, teman Sekolah Menengah Atas (SMA). Buku bagus, sudah dicetak ulang; begitu kata teman tadi. Rekomendasi dari Tonggo, sampai ia mengirimkan buku itu dari kediamannya di Balige ke Jakarta, menimbulkan keingintahuan. Apa sih isi buku itu?

Legenda Sejarah

Saya suka cerita rakyat dari berbagai daerah yang diperkenalkan dalam pelajaran sekolah. Cerita rakyat menarik perhatian, ada nilai-nilai sosial atau kemanusiaan yang disampaikan, biasanya hal-hal baik mengalahkan hal-hal jahat.

Sebagai insan yang dilahirkan di tanah perkebunan Sumatra Utara, saya terkesan akan legenda terjadinya Danau Toba. Dan sekarang, saya mendapat kiriman buku Penakluk Ujung Dunia, yang mengisahkan sejarah rakyat Batak zaman dulu, yang tinggal di seputar Danau Toba. Segera saja buku kiriman itu dibaca dan ditelaah hingga halaman terakhir.

Adat

Setiap insan suku Batak memiliki marga. Marga menunjukkan seseorang berasal dari silsilah keturunan tertentu. Marga menjadi identitas orang Batak, sering kali membantu dalam pergaulan sehari-hari.

Saya belajar dari buku Penakluk Ujung Dunia, setiap marga memiliki komunitas sendiri, menduduki area kampung tertentu di tanah seputar Danau Toba. Danau Toba menjadi sumber pemenuhan domestik; mulai dari ikan yang dikandungnya, hewan yang hidup di alam daratan, hingga pertanian yang tumbuh di sekitarnya.

Saya juga belajar dari buku itu, tentang strata adat yang mengatur kehidupan sosial warga penyandang marga. Raja Panggonggom pemegang kekuasaan adat dan hukum tertinggi di perkampungan marga. Raja Ni Huta pengerah tenaga rakyat. Raja Na Begu pemimpin para panglima dan hulubalang. Ada petinggi adat lainnya, seperti Raja Partahi, Raja Namora, Datu Bolon Gelar Guru Marlasak.

Atribut yang mereka kenakan juga berbeda-beda. Seperti Raja Panggonggom yang mengenakan ulos batak ragi hidup; kepala yang dibalut bolatan dengan jalinan tiga warna: merah, putih, hitam; tongkat panaluan yang hulunya berukiran wajah dan kepala manusia serta dihiasi rambut manusia. Tak lupa pisau gajah dompak diselipkan di pinggangnya. Ulos batak dan bolatan yang dikenakan petinggi di bawah Raja Panggonggom berbeda, sesuai dengan jabatan adat yang disandang masing-masing.

Strata adat memainkan peranan penting. Biasanya keputusan yang menyangkut warga marga ditentukan melalui rapat akbar yang dipimpin Raja Panggonggom, dihadiri para petinggi adat dan warga laki-laki marga tersebut. Raja Panggonggom dan petinggi adat menempati posisi lebih tinggi saat duduk dalam rapat akbar.

Di Luar Kenyamanan

Manusia cenderung memilih berada di area nyaman (comfort zone), yang memberi rasa aman. Rasa aman timbul karena menghadapi hal-hal yang tak asing (familiar) dan meneruskan kebiasaan yang sudah ada. Melangkah keluar dari comfort zone berarti menghadapi ketidakpastian, membuat kenyamanan terusik dan manusia bisa jadi curiga, waspada atau takut.

Buku Penakluk Ujung Dunia memberi gambaran tentang kebiasaan dan comfort zone. Berbagai rumpun marga hidup di lahan seputar Danau Toba. Warga masing-masing marga berkembang seiring waktu. Pertambahan anggota keluarga marga tak sejalan dengan ketersediaan lahan di seputar Danau Toba. Lahan yang memadai sangat penting bagi kelangsungan hidup; warga marga butuh tempat tinggal, tempat bercocok tanam, dan tempat beternak. Apa yang terjadi dalam keadaan seperti itu?

Masing-masing marga berusaha mendapatkan lahan lebih. Perang antar marga tak terelakkan, saling berebut lahan. Pasukan marga yang menang perang bisa merebut lahan marga lain, anggota marga yang kalah dan selamat dalam peperangan dijadikan budak marga yang menang. Situasi seperti itu terjadi berulang kali, menjadi cara marga untuk menguasai lahan yang lebih luas.

Hingga di suatu ketika, Ronggur, salah seorang warga di suatu marga, bermimpi mendengar suara nyaring yang mengajaknya memulai perjalanan mengikuti sungai. Dalam mimpinya ia dibawa ke suatu tempat teduh, penuh pepohonan, serta tanah yang landai dan subur. Ia juga menemui danau yang luas, lebih luas dari Danau Toba, dalam mimpi itu.

Ronggur jadi memikirkan mimpinya, menganggap mimpi itu petunjuk untuk mencari tanah habungkasan, tanah garapan baru, daerah perluasan; demi masa depan warga marga beserta keturunannya. Tanpa disadari Ronggur, ia berpikir maju ke depan. Mengapa harus berperang, saling membunuh antar marga, demi memiliki lahan yang terbatas di seputar Danau Toba? Dengan semakin berkembangnya jumlah keturunan marga, lahan akan semakin sempit, pertarungan mendapatkan lahan marga akan semakin pelik. Mengapa tidak mencari lahan baru saja, tak perlu saling membunuh?

Ronggur menyuarakan pemikirannya dalam rapat warga marga. Tekad Ronggur sudah bulat, ingin memuaskan keingintahuan tentang tanah habungkasan yang muncul dalam mimpi. Ia berencana akan mengarungi Sungai Titian Dewata untuk menyongsong tanah habungkasan.

Pemikirannya yang tak umum mendapat tantangan dari para petinggi marga. Petinggi marga percaya pada kebiasaan dan tradisi selama ini, dan mau mempertahankannya. Sungai Titian Dewata dipercaya berakhir di ujung dunia. Sengaja diciptakan Dewata untuk titian menuju matahari, tempat Mula Jadi Na Bolon, Sang Pencipta. Para Dewata dan arwah nenek moyang bersemayam di sekitar Mula Jadi Na Bolon. Tak mungkin ada yang mampu mengarungi Sungai Titian Dewata untuk mencapai tanah landai dan subur.

Ronggur tetap bersikukuh melaksanakan rencananya, mengambil risiko dikeluarkan dari kelompok marganya sendiri, dan gelar yang disandangnya dalam strata adat dicopot. Begitulah hukuman yang diputuskan petinggi marga bagi Ronggur, sang pelanggar tradisi. Ronggur berani melangkah keluar dari comfort zone!

Tanah Habungkasan

Ditemani anjing setianya Si Belang, dan Tio, perempuan dari marga yang dikalahkan dalam perang perebutan lahan, Ronggur mengarungi Sungai Titian Dewata. Berbagai rintangan dan tantangan mereka lalui selama beberapa waktu lamanya, hingga akhirnya tiba di tanah landai, penuh pepohonan hijau, bertanah gembur dan subur. Ternyata, Sungai Titian Dewata tak berujung di akhir dunia!

Penemuan tanah habungkasan membuat banyak warga mengikuti langkah Ronggur. Jalan tempuhan menjadi berkembang, tak hanya yang dirintis oleh Ronggur. Alhasil banyak daerah lain yang menjadi tempat hunian baru warga marga. Mereka tak berpikir tentang perang lagi.

Robert Collier, seorang penulis Amerika, mengatakan, visualize thing that you want, see it, feel it, believe in it. Make a mental blueprint and begin. Ronggur menjadi contoh sosok yang berpikir jauh ke depan, bisa melihat cara terbaik mengatasi masalah yang ada, dan percaya mampu melakukannya. Ia tak terperangkap pada pola pikir orang-orang pada umumnya.

Bokor Hutasuhut

Saya tak pernah mendengar nama Bokor Hutasuhut sebelum menerima kiriman buku Penakluk Ujung Dunia. Ia penulis buku itu. Ternyata namanya tercatat sebagai sastrawan angkatan 1950-1960an yang cukup dikenal dalam dunia sastra Indonesia. Ia juga terlibat dalam politik ideologi, antara lain berjuang bersama penyair Goenawan Mohamad dan kritikus sastra H.B. Jassin.

Dari penelusuran, karya Bokor Hutasuhut banyak menceritakan latar budaya Tapanuli, kehidupan dan pandangan hidup masyarakat Tapanuli. Dari marganya, jelas terlihat ia keturunan Tapanuli, tinggal di wilayah Tapanuli Utara. Ia tentu berpengetahuan dan dekat dengan budaya Tapanuli.

Penakluk Ujung Dunia yang ditulis Bokor Hutasuhut dikembangkan dari cerita rakyat yang diturunkan secara turun temurun. Dikemas dalam novel yang memberi sumbangsih bagi pelestarian sejarah budaya.

Saya terkesan dengan kepiawaian Bokor Hutasuhut yang mampu menceritakan hal-hal teknis secara detail. Seolah-olah ia pernah membuat perahu, pernah mengarungi sungai berarus deras sehingga tahu apa saja yang perlu disiapkan agar tak tenggelam terbawa arus. Ia juga mampu menceritakan kapan saat berhenti, mencari jalan, mencari binatang buruan, mengawetkan makanan, bercocok tanam, dan berbagai hal teknis lainnya. Ketelitian penulisan Bokor Hutasuhut membuat saya ikut terbawa berpetualang menaklukkan ujung dunia bersama Ronggur, Tio, dan Si Belang!

Balige Writers Festival

Buku Penakluk Ujung Dunia diterbitkan tahun 1964. Buku itu mendapat apresiasi, dicetak ulang tahun 1988 (cetakan kedua).

Tahun 2024 ini, buku Penakluk Ujung Dunia dicetak ulang (cetakan ketiga) dalam rangka Balige Writers Festival. Suatu penghargaan bagi penulis Bokor Hutasuhut. Buku itu memang pantas dicetak ulang, pesan sejarah yang dikandungnya patut disebarkan pada generasi penerus agar jejak budaya tetap tinggal dan dilestarikan.

Cukup salut atas penyelenggaraan Balige Writers Festival. Kegiatan itu bertujuan menggiatkan literasi sastra dan meningkatkan minat baca di wilayah Toba dan sekitarnya. Festival itu sendiri diinisiasi oleh Akademi Sastra Toba. Pameran buku, kegiatan menulis, dan diskusi dengan berbagai pembicara dilakukan selama festival.

Ketika menelusuri kegiatan Balige Writers Festival, saya menemukan wajah Tonggo Pardede, pengirim buku Penakluk Ujung Dunia, di antara berbagai dokumentasi kegiatan festival itu. Ternyata ia Dewan Pembina, aktif berperan menyukseskan literasi di Balige bersama panitia dan orang-orang yang menaruh perhatian pada literasi dan pelestarian budaya.

Penakluk Ujung Dunia telah selesai dibaca. Sekarang saya mengerti mengapa Tonggo antusias mengirim buku itu. Memang pantas untuk dibaca.

Semoga karya-karya bernilai dari sastrawan Sumatra Utara lainnya bisa dicetak ulang seperti Penakluk Ujung Dunia. Dan semoga pemerintah daerah mendukung penuh kegiatan meningkatkan minat baca, menulis, dan melestarikan budaya; seperti Balige Writers Festival.