
Pengunduran diri karyawan biasa terjadi sejak zaman dulu, sejak manusia membuka usaha bisnis dan memerlukan tenaga kerja. Mulai dari usaha rumahan, hingga usaha bisnis yang terdaftar secara hukum. Karyawan yang pergi diganti dengan karyawan baru. Jika di masa lampau pergantian karyawan berlangsung dalam kurun waktu yang tidak terlalu sering dan jumlahnya tidak banyak, di masa sekarang pergantian itu relatif lebih cepat, terutama di kalangan karyawan generasi Z.
Bedol Desa
Pemerintah negeri ini mengeluarkan deregulasi perbankan melalui paket kebijakan ekonomi 27 Oktober 1988, yang disebut Paket Oktober (Pakto ’88). Kebijakan itu bertujuan untuk meningkatkan pengerahan dana masyarakat melalui perbankan.
Pakto ’88 mempermudah perizinan mendirikan bank. Hanya dengan modal sepuluh miliar rupiah, siapa pun dapat mendirikan sebuah bank. Maka, bank-bank baru dengan kantor cabangnya pun muncul bak jamur di musim hujan.
Pakto ’88 memicu ledakan jumlah bank di Indonesia. Sebelum kebijakan di atas, tercatat 64 bank swasta di negeri ini. Setelah kebijakan digelontorkan, tercatat 91 bank swasta tahun 1989, 144 bank swasta tahun 1992, dan puncaknya 166 bank swasta tahun 1994.
Bank-bank baru berencana segera beroperasi. Mereka tak punya waktu melatih karyawan. Jalan singkat pun ditempuh. Mereka merekrut karyawan yang sudah siap dengan keahlian dan kompetensi yang dibutuhkan. Pendirian bank-bank baru membuat terjadi perebutan tenaga kerja di pasar.
Dalam dunia perbankan, Citibank dikenal sebagai the leading bank. Bank internasional itu kesohor berkat berbagai inovasi yang diluncurkan. Standar profesionalisme yang diterapkan Citibank membuat karyawannya memiliki kompetensi di bidangnya. Keunggulan standar operasional dan kompetensi karyawan yang dibangun Citibank diakui pasar. Hal itu tak hanya berlaku di negeri ini; gaung profesionalisme Citibankers dikenal di negara-negara dimana bank itu beroperasi.
Bank-bank baru mengincar sumber daya manusia Citibank. Kompetensi Citibankers tak diragukan lagi, banyak karyawan Citibank yang didekati dan diberi tawaran pekerjaan oleh bank-bank baru tadi.
Surat pengunduran diri karyawan dilayangkan ke Departemen Sumber Daya Manusia (SDM) Citibank secara bertubi-tubi. Muncul istilah ‘bedol desa’ saat itu, seolah terjadi ‘pemindahan penghuni desa ke tempat lain’, menggambarkan apa yang terjadi di Citibank. Salah satu bank baru itu bahkan merekrut sekitar lima belas orang karyawan Citibank dalam kurun waktu tertentu.
Kehilangan karyawan dalam jumlah besar tentu mengganggu operasional bank. Jika mencari pengganti dari bank lain, ada kemungkinan pengganti tadi pun akan didekati bank-bank baru setelah bekerja beberapa waktu lamanya.
Citibank mencari jalan lain dalam mengatasi hal itu, mengimpor talenta Citibankers dari cabang bank itu di negara lain. Bank-bank baru tadi tak merekrut tenaga kerja asing hasil impor Citibank. Selain terlalu mahal biayanya dan memerlukan izin kerja khusus, tenaga kerja asing biasanya tak mau menanggung risiko bekerja di bank lokal yang tidak berskala internasional.
Co-op
Di suatu unit perusahaan terjadi pengunduran diri karyawan secara beruntun. Data pengunduran diri karyawan terekam dalam sistem kepegawaian, dilaporkan setiap bulan. Angka pengunduran diri karyawan yang mencolok selama enam bulan terakhir di unit tadi menarik perhatian pihak Departemen SDM. Segera dilakukan penelahaan lebih jauh dengan melakukan wawancara terhadap karyawan yang mengundurkan diri.
Alasan pengunduran diri yang sebenarnya terungkap dalam wawancara itu. Walau wawancara dilakukan secara terpisah, semua karyawan yang mengundurkan diri memberi alasan sama: tak betah bekerja di bawah pimpinan unitnya, rasa hormat terhadap pimpinan mereka sirna akibat perilaku sang pimpinan.
Pimpinan unit tersebut dikenal pintar, menguasai bidangnya, memiliki kemampuan teknologi, sering dilibatkan dalam proyek perusahaan. Lalu mengapa karyawan dalam timnya kehilangan rasa hormat terhadap pimpinan unit tersebut?
Ternyata pimpinan yang pintar itu sering bermain cooperative video game di ruang kerjanya. Cooperative video game sering disingkat sebagai co-op. Co-op permainan yang cukup populer di kalangan penggemar video game. Video game itu menampilkan berbagai permainan, seperti permainan tembak menembak, permainan olahraga, permainan strategi waktu nyata, permainan daring multi pemain masif, dan lain-lain.
Co-op dirancang untuk dimainkan oleh beberapa orang pemain video game, dimungkinkan karena layar tampilan yang sama. Karena itu pertandingan antar tim bisa dilakukan. Bisa dibentuk tim yang berbeda, setiap tim terdiri dari beberapa pemain video game. Anggota tim bekerja sama guna mengalahkan tim lawan.
Anak buahnya memperhatikan, pimpinan mereka biasanya sudah keluar makan siang pukul sebelas pagi, lalu kembali ke ruang kerja pukul setengah dua belas siang. Ia akan sibuk bermain co-op hingga hampir pukul dua siang. Dengan siapakah pemimpin unit itu bermain video game?
Ternyata ada beberapa karyawan lainnya dalam perusahaan yang bermain co-op video game bersama-sama. Ada dua tim yang dibentuk, kedua tim saling bertarung dalam jenis permainan co-op video game yang dipilih. Pemimpin unit tadi tergabung dalam salah satu tim, bermain melawan tim lainnya. Walau pemimpin unit berada di ruang kerjanya di salah satu cabang kantor, jaringan teknologi perusahaan memungkinkan ia bermain bersama karyawan lain di departemen berbeda dan kantor cabang berbeda.
Keasyikan bermain co-op video game membuat pemimpin unit mendelegasikan semua tugas kepada anak buah. Perannya menjadi seperti memberi tugas dan menagih penyelesaian tugas. Bimbingan pada anak buah dan diskusi tim jarang dilakukan. Anggota tim jadi merasakan ketimpangan: pemimpin mereka yang digaji lebih besar dianggap kurang bekerja, sementara anak buah yang bergaji lebih kecil dan berpangkat lebih rendah harus bekerja keras menyelesaikan tugas.
Tindak lanjut segera dilakukan guna membenahi sistem kerja di unit tersebut. Surat Peringatan pun dikeluarkan untuk pemimpin unit tadi. Namun beberapa anak buahnya sudah mengundurkan diri, suatu kerugian bagi perusahaan akibat ulah pemimpin unit.
Gaji Tinggi
Menjelang berakhirnya kuliah program Magister bidang bisnis yang ditekuni, seorang mahasiswa sibuk melayangkan surat lamaran kerja ke berbagai firma konsultan bisnis. Mulai dari Boston Consulting Group (BCG), McKinsey, Bain & Company, AT Kearney, Accenture, dan lain-lain. Universitas tempatnya kuliah masuk dalam sepuluh besar universitas terbaik di negeri Paman Sam. Karena itu ia yakin akan diterima di salah satu firma konsultan bisnis yang dilamar.
Keyakinannya terbukti, ia diterima bekerja sesuai target pribadi yang ditetapkannya. Firma konsultan bisnis yang menawarkan pekerjaan itu menempatkannya di cabang perusahaan di Indonesia, negara asal sang mahasiswa. Mereka tak perlu mengurus izin kerja dengan menempatkan para lulusan baru di negara asal.
Mahasiswa tadi bukan satu-satunya lulusan sekolah bisnis yang bercita-cita bekerja di firma konsultan bisnis. Teman-teman kuliahnya pada umumnya berkeinginan sama. Mengapa?
Bekerja di nama-nama besar firma konsultan bisnis di atas memiliki gengsi tersendiri di kalangan sarjana. Pilihan favorit lainnya, mereka ingin bekerja di perusahaan investasi seperti Goldman Sachs, BlackRock, JP Morgan Chase, Morgan Stanley, Fidelity, dan lain-lain.
Perusahaan investasi dan firma konsultan bisnis ternama di atas menerima ribuan surat lamaran kerja setiap tahun. Persaingan ketat antar pelamar kerja itu membuat mereka yang berhasil diterima bekerja di perusahaan tersebut merasakan kebanggaan tersendiri, ada semacam pengakuan bahwa mereka dianggap pintar dan memiliki talenta.
Selain gengsi bisa bekerja di nama-nama besar bidang investasi dan konsultan bisnis, gaji yang diterima besar, bahkan untuk karyawan pemula. Hal itu dimungkinkan karena biaya jasa yang dikenakan kepada klien-klien perusahaan itu dalam mata uang dolar Amerika. Standar gaji karyawannya pun diukur dengan dolar Amerika, yang dikonversikan ke mata uang masing-masing negara di mana perusahaan beroperasi.
Setelah menyelesaikan program Magister, mahasiswa yang sudah diwisuda menjadi sarjana tadi segera memulai pekerjaan di firma konsultan bisnis cabang Indonesia. Dengan semangat tinggi ia mengikuti orientasi perusahaan dan melaksanakan tugas sebaik-baiknya.
Namun, dalam hitungan bulan, ia mulai merasakan kelelahan. Tanpa mengenal hari dan waktu, selalu ada pelimpahan tugas dari atasan. Banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu singkat. Bahkan di hari Sabtu dan Minggu ia harus bekerja. Ia terpaksa membawa laptop saat pergi makan siang bersama keluarga, mengerjakan pekerjaan saat menunggu hidangan makanan tiba, dan terus mengerjakan pekerjaan saat keluarga melanjutkan duduk santai di cafe.
Beban pekerjaan membuatnya kurang istirahat, tekanan dari atasan membuatnya sulit tidur. Ia kelelahan secara fisik, emosional, dan mental. Ia menjadi mudah marah, wajahnya terlihat kuyu akibat kurang tidur.
Keluarga melihat perubahan yang tidak sehat pada dirinya, menderita stress akibat pekerjaan kantor. Keluarga pun memberi kesadaran padanya bahwa pekerjaan di firma konsultan bisnis itu bukan untuknya jika ia mencari keseimbangan hidup. Di balik gaji tinggi yang diperoleh, karyawan firma konsultan dituntut bekerja keras.
Sekarang ia mengerti, mengapa turnover karyawan di firma konsultan tinggi. Karyawan biasanya bertahan kerja hanya sekitar dua tahun. Banyak karyawan yang memilih pindah ke industri berbeda guna mengurangi stress akibat beban pekerjaan.
Dengan berat hati sarjana baru tadi mengajukan pengunduran diri. Ia sadar, percuma bergaji tinggi jika tak memiliki waktu pribadi. Seperti kata pepatah, jangan terlalu sibuk mengisi hidup dengan mengejar uang hingga lupa menikmati hidup itu sendiri.