Adriani Sukmoro

Purna

Beberapa perusahaan memberlakukan masa persiapan pensiun (MPP) bagi karyawan yang akan memasuki usia pensiun. Tujuannya untuk mulai mengkondisikan karyawan dalam situasi ‘tidak bekerja’ dengan mengurangi pekerjaan yang ditugaskan kepada karyawan itu, membantu memberi pengetahuan tentang perencanaan keuangan melalui pelatihan agar memahami kondisi ‘tak mempunyai gaji atau penghasilan’ setelah pensiun.

Lingkungan Sosial

Sebagai penggemar buku, saya menyempatkan waktu mengunjungi toko buku Indigo saat berada di West Edmonton Mall di kota Edmonton, Canada. Dari sejumlah buku yang dipajang di deretan buku best seller, saya tertarik membeli buku A Man Called Ove. Cover buku itu menampilkan seorang pria mengenakan jas dan topi, hanya tampak punggung belakangnya, posenya sedang berdiri. Seekor kucing berada di belakangnya.

Walau wajah pria itu tak kelihatan, rambut putih yang muncul di bawah topi dan postur tubuh langsung mengesankan pria itu berusia di atas 50 tahun. Cover buku itu membawa pikiran pada seseorang yang menjalani hidupnya dengan hanya ditemani seekor kucing.

Ternyata dugaan itu betul. Ove, nama pria dalam cerita, berusia 59 tahun. Ia hidup dan bekerja di Swedia. Karena alasan kesehatan, perusahaan memberhentikannya; ia terpaksa pensiun dini di usia 59 tahun walau usia pensiun 63 tahun yang biasanya berlaku di Swedia.

Istri yang dicintai dan menjadi teman sejatinya meninggal dunia enam bulan sebelum Ove terpaksa pensiun dini. Istrinya menderita kanker selama beberapa waktu lamanya, mereka tak memiliki anak karena istrinya keguguran dalam kecelakaan perjalanan liburan.

Di masa tuanya itu Ove kehilangan tujuan hidup. Ia hanyut dalam kesedihan, kehilangan istri, lalu kehilangan pekerjaan yang mengisi waktunya berpuluh tahun. Ia hidup kesepian, terisolasi sendirian. Ia berpikir untuk mengakhiri hidupnya saja.

Usaha bunuh dirinya tak terjadi akibat munculnya tetangga baru yang tinggal di depan rumah. Tetangga itu ramah, peduli dan memperhatikannya. Ove menjadi memiliki kehidupan sosial, ia juga mulai memiliki tujuan hidup ketika berjuang mempertahankan lingkungan hunian tempat tinggalnya yang berusaha diambil alih pengembang properti.

Mewartakan Kegiatan

Seorang pejabat dalam suatu organisasi memasuki masa pensiun. Ia kehilangan kegiatan rutin yang dulu dilakukan setiap hari: berangkat ke kantor, mengerjakan berbagai tugas dari pagi hingga sore atau malam hari, menghadiri rapat dalam kantor, mewakili perusahaan dalam berbagai kegiatan bisnis di luar kantor, dan lain-lain.

Pengalaman kerjanya membuat mantan petinggi organisasi dan pensiunan tadi mendapat pekerjaan sebagai Advisor di suatu perusahaan. Bukan pekerjaan seperti yang dulu diembannya, ia hanya perlu hadir di perusahaan jika ada hal yang memerlukan kehadirannya.

Kehilangan kegiatan rutin membuat ia kerap mem-posting kegiatannya di berbagai sarana media sosial: sedang berangkat menuju kantor, sedang menjalankan peran sebagai Advisor, diundang menjadi pembicara di suatu pelatihan, menghadiri kegiatan tertentu, dan lain-lain. Apa yang ditampilkan seolah ingin menyampaikan bahwa ia masih aktif bekerja. Aktif bekerja itu mungkin diartikan sebagai pengukuhan eksistensi, keahliannya masih dibutuhkan pasar.

Terus aktif usai purna tugas pasti berdampak positif: membantu seseorang terus menggunakan daya pikir, energi, dan pengalaman. Hanya mungkin mewartakan kegiatan setiap hari kepada para profesional yang masih bekerja dianggap berlebihan.

Atribut Jabatan

Selalu ada awal dalam karier seseorang. Bisa dimulai menjadi Management Trainee di perusahaan, atau posisi entry level lainnya; biasanya tergantung kebutuhan perusahaan dan kualifikasi yang dimiliki calon tenaga kerja.

Dalam perjalanan karier, seseorang bisa menjadi pemimpin: kepala unit, kepala departemen, kepala grup bisnis, dan lain-lain. Mereka yang duduk di posisi pimpinan perusahaan menjadi petinggi yang menggerakkan roda organisasi, sesuai visi dan misi perusahaan.

Setelah berpuluh tahun memupuk karier, akan tiba saatnya bagi para profesional mengakhiri kehidupan korporasi, memasuki masa pensiun. Pensiun menyebabkan berbagai ‘atribut’ yang menempel dengan jabatan yang selama ini diemban hilang: bukan lagi seorang boss, tak punya anak buah, fasilitas jabatan dikembalikan ke perusahaan.

Seorang Chief Executive Officer (CEO) suatu perusahaan besar yang cukup dipandang di bidang bisnisnya, biasa diundang ke berbagai forum komunikasi. Selain asisten yang selalu mendampingi untuk memastikan kelancaran sang CEO saat tampil di panggung forum, panitia yang mengundangnya juga siap melayani kebutuhan CEO itu pada saat acara.

Namun perubahan terasa ketika CEO itu sudah purna tugas, tak lagi menjadi CEO perusahaan besar tadi. Ketika diundang di suatu forum komunikasi, ia menanti kopi hangat yang biasanya disediakan untuknya. Minum kopi hangat kebiasaan yang selalu dilakukannya sebelum mulai berbicara di depan forum. Ia bertanya kepada salah seorang panitia, di mana bisa mendapatkan kopi? Panitia tadi menunjuk ke sudut tertentu: bisa mengambil kopi panas di coffee maker yang disediakan di bagian belakang ruang forum.

Mantan CEO itu pun tersenyum kecut, berjalan menuju tempat coffee maker, lalu membuat kopinya sendiri. Ia belajar tentang satu hal: penghormatan yang diberikan selama ini bukanlah penghormatan kepada dirinya, melainkan penghormatan kepada jabatannya.

Penerimaan dan kepedulian lingkungan terhadap warga senior yang sudah purna tugas seperti yang dialami Ove di atas merupakan perilaku sosial yang sangat mendukung. Kaum pensiunan akan terbantu beradaptasi dengan situasinya, ia tetap harus melanjutkan hidup di situasi berbeda.

Tak lagi menjabat atau memiliki pekerjaan di perusahaan perlu diterima dengan kerelaan. Tak ada yang abadi, kehidupan korporasi akan berakhir pada waktunya. Para pensiunan akan tetap menjadi diri mereka bila mereka belajar memisahkan antara jabatan di korporasi dan kehidupan nyata yang dijalani sekarang.

Fase memasuki purna tugas pada awalnya mungkin kurang nyaman. Bagaimana menggunakan waktu, kemampuan, pengalaman, lingkungan pergaulan (network), minat atau hobi menjadi kunci menjalani hari-hari purna tugas dengan positif dan produktif. Seperti pepatah yang mengatakan, pensiun adalah melihat kertas kosong. Seseorang yang memasuki masa pensiun punya berbagai pilihan dalam mengisi kertas kosong itu. Merupakan suatu kesempatan untuk kehidupan baru dan berbeda.

Leave a Comment