
Orang-orang yang pernah hadir dalam kehidupan seseorang menjadi bagian dari orang tersebut. Seperti saat sekolah; mereka yang duduk di sekolah yang sama menjadi teman sesama alumni sekolah tersebut. Saat bekerja pun, mereka yang bekerja di perusahaan yang sama, menjadi teman sesama alumni perusahaan tersebut setelah tak bekerja di sana lagi.
Nongkrong Bareng
Bertemu dengan sesama alumni selalu menyenangkan, terutama teman alumni sekolah. Ada cerita kebersamaan di masa lampau yang menjadi pengikat pertemanan. Cerita itu menjadi istimewa karena dilalui di usia muda, di saat belajar menjadi fokus utama kehidupan, belum bertanggung jawab untuk menghidupi diri sendiri maupun keluarga.
Tak heran reuni teman sekolah sering dilakukan di sana sini. Ada yang berskala besar, biasanya untuk merayakan hal tertentu, seperti misalnya merayakan sepuluh atau dua puluh atau tiga puluh tahun kelulusan dari sekolah. Reuni berskala besar itu melibatkan keseluruhan alumni angkatan yang bersangkutan.
Reuni kecil-kecilan juga kerap terjadi. Apalagi yang sifatnya ‘dadakan’. Seperti saat mengunjungi kota Medan, tempat menyelesaikan Sekolah Menengah Atas (SMA). Sapaan di jaringan pribadi membawa sekelompok kecil alumni SMA berkumpul. Makan malam bersama, dilanjutkan dengan menikmati live band performance yang muncul di pukul 21.00 WIB, menyatukan alumni itu di suatu malam di Capital Building.
Menikah dan Pemakaman
Netty, yang selalu tampil percaya diri, berbaik hati mengoordinir reuni ‘dadakan’. Pertanyaan pembukaan yang diajukannya memancing percakapan di meja.
“Anak bungsumu mau menikah ya? Menikah dengan bule lagi kah?”
Ternyata Netty sudah mendengar kabar tentang rencana pernikahan putri bungsu. Pertanyaannya berhubungan dengan kenyataan bahwa putri sulung saya menikah dengan pria kulit putih.
“Menikah dengan orang Chile. Itu bule atau bukan ya?” saya malah mempertanyakan definisi ‘bule’.
“Ya bule lah! Wah… anak-anakmu nanti nggak ada yang di Indo. Yang sulung kan di Amrik!” komentar Netty.
Pertanyaan pembukaan Netty membawa pembicaraan ke topik saat ajal tiba. Jika dulu di masa SMA tak pernah ada pembicaraan tentang kematian, maka di meja reuni itu dengan santainya terjadi pembahasan di mana rumah abadi kelak jika napas sudah terhenti.
Menghadapi situasi orangtua yang tinggal di benua berbeda dengan anak-anaknya, tercetus ide kremasi, guna menghindari penelantaran pusara akibat tak ada yang mengurus. Maria, salah satu alumni yang hadir, menenangkan dengan berbagi informasi. Ada tempat pemakaman yang tak merepotkan. Tanah pemakaman bisa dibeli, mendapat sertifikat, tak perlu keluar biaya perawatan setiap tahun seperti tempat pemakaman lainnya. Karena itu tak ada kemungkinan makam seseorang ditimpa dengan jenazah lainnya, tanah makam itu telah dimiliki pribadi.
Teman Sekelas
Acara kumpul ‘dadakan’ membuat hanya dua teman sekelas yang bisa hadir, selebihnya teman dari kelas berbeda. Hasyim, yang dulu tak banyak bicara di kelas, selalu menyediakan waktu untuk ikut kumpul reuni. Ia hadir malam itu. Hasyim terlihat menikmati kebersamaan dengan bekas teman-teman sekolah, gambaran seorang yang easy-going, hadir tanpa perlu mencari perhatian.
Mirip dengan Tonggo, yang dulu juga tak banyak bicara di kelas. Profil wajahnya tegas, tapi santun dalam tutur katanya. Walau ia seorang Insinyiur jurusan Teknik Mesin, pekerjaannya di bidang konstruksi. Ia kontraktor bangunan pemerintah maupun rumah pribadi. Ia berpengalaman membangun gedung dan rumah dengan elemen budaya (tradisional Batak). Di saat usaha konstruksi terdampak pandemi Covid-19, Tonggo banting setir. Kini, bersama rekan bisnisnya, Tonggo memproduksi pupuk organik cair (POC) dengan bahan ikan red devil yang banyak ditemui di Danau Toba. Tonggo memang pribadi yang tenang dan ulet menghadapi tantangan bisnis.
Dalam Jangkauan
Reuni ‘dadakan’ membuat beberapa nama terlewatkan. Yayuk yang terlupakan segera dihubungi saat beberapa alumni sudah berkumpul. Dan… ia muncul dalam beberapa menit. Kota Medan yang tak seluas Jakarta membuat teman terlewatkan bisa menyusul, tempat reuni dalam jangkauan.
Kelas yang berbeda, letak kelas yang tak berdekatan, membuat saya tak ‘mengenal’ Yayuk, hanya sekadar tahu Yayuk. Saat berbincang dengannya, baru tahu Yayuk membaca puisi-puisi yang saya tulis dan ditempel di majalah dinding sekolah dulu. Ia juga ingat moment perlombaan menulis di sekolah, saat saya memenangkan lomba itu. Yayuk memperhatikan ranah tulis menulis karena ia sendiri suka menulis. Ia pernah mengirim tulisan karyanya ke suatu majalah ibukota. Tulisannya dimuat, tapi nama orang lain yang tercantum sebagai penulis. Integritas majalah itu rendah, terjadi perampasan karya tulis. Jika itu terjadi di zaman sekarang, pasti semua anggota alumni akan membantu Yayuk untuk memviralkan kecurangan yang terjadi.
Penghangat Suasana
Sosok yang periang dan senang bercanda bisa membuat suasana reuni menjadi ramai. Suryanty So, menjadi sosok yang meramaikan malam itu. Seperti ibu kost, ia membagi-bagi makanan yang dipesan untuk beramai-ramai. Seperti ibu ekonomis, ia merayu pelayan restoran untuk terus mengisi teko teh dengan air putih panas, strategi refill biar tak perlu membayar lebih. Seperti pelawak, ia menjawab pertanyaan dengan spontan, jawabannya tak terduga, membuat yang hadir tertawa.
Suryanty So yang melabel diri bermata sipit, ternyata istri seorang prajurit. Suaminya prajurit berdarah Jawa, bertutur kata halus, memanggilnya dengan sebutan ‘adek’. Latar belakang yang berbeda membuat pikiran menduga-duga. Sifatnya yang periang mungkin membuat suaminya, sang prajurit, jatuh cinta dan tak bisa pindah ke lain hati.
“Mohon maaf bertanya. Suamimu meninggal karena sakit apa?” saya bertanya setelah mendengar cerita suaminya meninggal di usia relatif muda, sebelum usia pensiun.
“Sakit hati,” begitu jawaban Suryanty.
Langsung saja semua tertawa. Ternyata Suryanty sedang tidak bercanda. Suaminya memang meninggal karena sakit hati, heart disease, sakit liver!
Drumband SMA
Drumband menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler di SMA dulu. Cukup banyak murid yang dipilih memperkuat drumband SMA: kelompok pemain senar, pemain bas, pemain belira, pemain trompet, pemain suling, show girls yang tampil paling depan dengan tongkat hiasnya, dan tak lupa Mayoret sang pemimpin drumband.
Saking banyaknya, tak semua teman tim drumband masuk dalam ingatan. Seperti Hanizar, yang ada dalam ingatan, tapi terlupakan masuk dalam kelompok musik yang mana. Malam itu baru tahu Hanizar pemain senar, sama seperti saya. Berarti ia selalu berdiri dan berbaris dalam kelompok yang sama. Reuni malam itu membuat kenangan kebersamaan dalam kegiatan drumband muncul kembali.
Belly, anggota drumband lainnya, malah luput dari ingatan sama sekali. Ternyata ia salah seorang pemain belira. Belly pasti menguasai alat musik tertentu karena hanya mereka yang bisa memainkan alat musik yang dipilih menjadi kelompok pemain belira.
Saat duduk bersilaturahmi dengan Belly, bukan hanya cerita tentang keaktifannya dalam drumband yang terungkap. Rasanya ikut bangga mendengar cerita tentang putri bungsunya. Seorang siswa pintar, lulusan sebuah universitas di Hong Kong, yang kini bekerja di KPMG Hong Kong (Klynveld Peat Marwick Goerdeler). Tak sembarangan, KPMG sebuah konsultan ternama, tercatat sebagai empat besar konsultan manajemen di dunia, bersama Deloitte Touche Tohmatsu, PricewaterhouseCoopers, dan Ernst & Young.
Tanda Tangan
Semua yang hadir di malam reuni itu mendapatkan hadiah buku Burung Merak. Bernadette langsung membuka bungkus plastik buku, dan meminta tanda tangan saya, sang penulis buku.
Bernadette sepertinya terkesan dengan cover buku Burung Merak. Ia datang menghampiri dan menjelaskan. “Mata pada bulu burung merak melambangkan mutiara biru. Melalui meditasi pada mutiara biru, seseorang dapat mencapai kesatuan dengan jiwa luhurnya.” Ternyata Bernadette membaca hal yang berhubungan dengan meditasi untuk penyadaran jiwa. Seperti yang tergambarkan dalam buku Master Choa Kok Sui yang dibacanya, berjudul Achieving Oneness with the Higher Soul.
Bagi seorang penulis, merupakan suatu kehormatan ketika seseorang meminta tanda tangannya pada buku karyanya. Buku itu belum tentu sesuai minat baca Bernadette, tapi ia telah membuat seorang penulis merasa karyanya dihargai.
Suara Merdu
Tepat di pukul 21.00 WIB, live performance dari band setempat dimulai. Ada beberapa penyanyi band, salah seorang di antaranya tampil dengan suara menonjol. Ketika Elly, salah seorang alumni, tampil ke atas panggung untuk menyumbang lagu, suaranya tak kalah dari penyanyi band dengan suara menonjol tadi. Ada power dalam suara Elly saat menyanyi, membuat lagu Polo Pa Kita yang dibawakannya menguasai panggung dan suasana restoran.
Dulu sekolah memiliki band. Band sekolah itu pernah ikut perlombaan band antar SMA di kota Medan. Band sekolah tak berhasil menjadi juara, bahkan tak mampu menjadi juara III sekali pun. Seandainya anggota band dipilih berdasarkan kemampuan individu, tanpa mempedulikan kelompok pertemanan, niscaya Elly dan suara bagusnya terpilih menjadi vokalis!
Robert, yang hadir malam itu, juga mempunyai suara menonjol. Seperti terlihat dari video rekaman nyanyi yang ia kirimkan saat para alumni membuat video kolase. Robert yang sedang dinas di perkebunan, tak terhalang waktu dan tempat, membuat rekaman dikelilingi pohon kelapa sawit.
Panjang Umur
Menjelang larut malam, satu per satu alumni pamit pulang. Agus, kakak laki-laki tertua, yang juga hadir dalam reuni alumni, bertugas menjemput dan mengantar pulang ke hotel.
Pandemi Covid-19 membuat alumni SMA ini tak melakukan reuni traveling seperti tahun-tahun lampau. Berkumpul ‘dadakan’ malam itu menjadi obat pengganti reuni traveling.
Mangga yang dibawa Netty dan dibagikan ke peserta reuni masih ada, belum dimakan hingga saat menulis ini. Mangga itu mengingatkan, tak rugi menyapa teman, selalu menyenangkan menghabiskan beberapa jam bersilaturahmi dengan teman masa remaja.
Saya setuju dengan orang yang mengatakan reuni bisa membuat umur panjang, bisa menghilangkan stress. Saya juga setuju dengan orang yang mengatakan, nothing makes you feel younger than being with those who knew you when you were younger. Sometimes you will never know the value of a moment until it becomes a memory.