Adriani Sukmoro

Smart Spending

Berbelanja dilakukan untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Pasar tradisional, pasar swalayan, mal, dan tempat-tempat lainnya biasa dipenuhi manusia yang melakukan transaksi belanja. Transaksi jual beli sudah berlaku sejak zaman batu, alat pembayaran pun berevolusi dari masa ke masa: sistem barter, pertukaran barang, uang koin emas dan perak, uang kertas, kartu kredit, pembayaran elektronik, dan lain-lain.

Obral

Kata ‘obral’ merujuk pada harga yang lebih murah dari harga barang yang sebenarnya, sering disebut harga miring. Obral merupakan salah satu strategi menarik minat pembeli. Iming-iming membeli lebih murah memberi dampak psikologis pada calon pembeli. Tak jarang terlihat toko yang mengadakan obral dikerubuti calon pembeli, semua sibuk melihat dan memilih barang yang akan dibeli.

Ketika tinggal di New Orleans, Amerika Serikat, selalu ada obral di setiap pergantian musim. Memasuki musim semi, baju-baju musim dingin diobral. Memasuki musim gugur, baju-baju musim panas diobral. Memasuki musim panas, banyak sweater yang diobral. Tulisan Clearance Sale biasanya terpajang dengan huruf-huruf besar, tergantung atau berdiri di bagian toko yang mudah ditangkap mata pengunjung.

Jika dulu obral dilakukan di periode tertentu, di masa sekarang terlihat kecenderungan obtal tanpa mengenal waktu khusus. Banyaknya obral yang ditemui membuat ada yang berpikir, terjadi strategi menjual di atas harga agar nanti bisa diturunkan saat toko memajang tanda ‘obral’. Harga obral itulah harga barang yang sesungguhnya, yang sudah menjamin keuntungan penjual.

Godaan Belanja

Hobi belanja cenderung dikaitkan dengan kaum perempuan. Iklan produk sering menggambarkan perempuan sebagai mahluk keranjingan belanja yang mendapatkan pemenuhan diri melalui terapi belanja. Perempuan juga sering dijadikan target strategi pemasaran berbagai industri; seperti industri mode, industri kecantikan, industri peralatan rumah tangga, dan lain-lain. Tak jarang kalimat yang mendesak digunakan, seperti ‘persediaan terbatas’, ‘beli satu dapat satu’, ‘harga promo hanya sampai tanggal…’, dan kalimat persuasif lainnya.

Stereotipe perempuan dan hobi belanja berlebihan digambarkan Isla Fisher dengan lakon yang bagus dalam film Confessions of A Shopaholic. Kebutuhan belanja membuat Rebecca Bloomwood, tokoh yang diperankan Isla Fisher, menggunakan kartu kredit di luar batas. Rebecca Bloomwood terlibat utang dan dikejar penagih utang kartu kredit. Ia kehilangan peluang kerja karena kasus utang itu.

Di masa sekarang, kemajuan teknologi yang memudahkan belanja secara online (online shopping), membuat perbedaan gender para pembelanja online tidak menonjol. Banyak kaum laik-laki yang belanja barang-barang teknologi dan gadget secara online. Selain itu kemudahan online shopping membuat kaum laki-laki memanfaatkan platform itu untuk membeli buku, pakaian, makanan, minuman, dan kebutuhan lainnya.

Google, Temasek, dan Bain & Company bekerja sama melacak dinamika perekonomian digital di Asia Tenggara; dan memberikan laporannya dalam e-Conomy SEA. Laporan itu berguna bagi pengamat ekonomi dan pelaku bisnis. Berdasarkan analisa data perekonomian digital dalam laporan e-Conomy SEA, ekonomi digital Indonesia terus tumbuh dari tahun ke tahun. Pada tahun 2024, gross merchandise value (GMV) ekonomi digital Indonesia diprediksi akan mencapai sekitar US$90 miliar. Jika terwujud, Indonesia menjadi negara dengan GMV tertinggi di Asia Tenggara.

Barang Bertumpuk

Kemudahan mendapatkan barang melalui online shopping membuat kecenderungan pada laki-laki maupun perempuan membeli barang yang ditawarkan platform marketplace seperti Shopee, Tokopedia, Lazada; walaupun pada awalnya mereka tidak berencana membeli barang-barang itu.

Dalam suatu kesempatan, seorang ibu yang tinggal di Jogjakarta bercerita kepada rekannya. Putri tunggalnya yang bekerja di Jakarta kerap membawa pulang berbagai macam barang saat liburan ke kota asal, dengan alasan kamar kost tempatnya mondok penuh, butuh menempatkan sebagian barang ke kamarnya di kota asal. Karena selalu ada barang baru yang dibawa pulang ke Jogjakarta, kamar putri tunggalnya menjadi penuh walau penghuninya tinggal di Jakarta.

Ibu itu memperhatikan, putri tunggalnya tak menyentuh barang-barang yang dibawa pulang saat ia berada di kota asal. Alhasil barang-barang itu menjadi sekadar barang menumpuk, tak jelas kegunaannya. Ibu itu jadi bertanya-tanya, mengapa dulu barang-barang itu dibeli? Dan sekarang dibiarkan menumpuk di kamar?

‘Lucu’, alasan yang membuat sang putri tunggal membeli barang-barang yang sekarang bertumpuk. Alasan lain seperti ‘keren tampilannya’, ‘sedang trend’, ‘mumpung masih ada’ dikemukakan sang putri tunggal. Keriaan menggunakan barang itu mungkin hanya pada saat awal dibeli, setelah itu tidak dipakai lagi.

Pemerhati perilaku sosial menamakan perilaku kegandrungan belanja seperti di atas sebagai impulsive buying, membeli secara impulsif tanpa terencana, cenderung tidak terkontrol, tanpa memikirkan dampaknya (terutama dampak keuangan pribadi). Penyebabnya kompleks, seperti dorongan psikologis, dorongan emosional (pelarian tekanan dalam diri), dorongan sosial, faktor lingkungan, pengaruh tren gaya hidup yang ditampilkan di media sosial (Instagram dan TikTok menjadi platform utama generasi muda).

Pertimbangan rasional dikalahkan oleh dorongan-dorongan di atas saat membuat keputusan membeli.

Influencer

Pay Later, serial delapan episode yang diputar di Netflix, menggambarkan kompleksitas yang ditimbulkan dorongan membeli barang.

Amanda Manoppo memerankan Tika, tokoh utama dalam cerita. Tika bercita-cita menjadi Influencer, berharap menjadi seseorang yang memiliki pengaruh di media sosial. Menjadi Influencer memang menarik bagi generasi muda, bisa meraih kesuksesan finansial melalui endorsement dan mendapatkan eksistensi (popularitas).

Tika selalu menjaga penampilannya. Untuk itu, ia kerap belanja, menampilkan trend terbaru.

Di suatu saat Tika diberhentikan oleh perusahaan tempatnya bekerja. Status pengangguran membuatnya tak punya dana untuk membeli barang-barang, tapi kebutuhan tampil sebagai Influencer membuatnya terus membeli barang. Dari mana sumber dananya? Ia terjebak dalam pinjaman online.

Ada hikmah yang bisa ditarik dari serial Pay Later. Ketagihan belanja membahayakan kondisi keuangan, bisa terjerat utang. Hidup tentu tak nyaman dikejar-kejar Collector

Bijak Berbelanja

Mindful shopping, istilah yang digunakan untuk proses belanja dengan kesadaran penuh, fokus pada kebutuhan. Kesadaran penuh saat berbelanja itu diharapkan membuat seseorang bijak dalam membeli barang, bijak berbelanja.

Banyak saran dan tips yang bisa diperoleh dari berbagai sumber dalam mengatasi impulsive buying. Mulai dari menentukan anggaran belanja bulanan sesuai kemampuan, menunda belanja saat tergoda, mendapatkan literasi keuangan, membiasakan mengevaluasi kondisi keuangan setiap bulan untuk melihat kecenderungan belanja yang bukan prioritas kebutuhan (bahkan mungkin tak dibutuhkan). Bahkan ada anjuran untuk menggunakan aplikasi pengelola keuangan guna memantau pengeluaran (secara tidak langsung membantu penggunanya menabung secara teratur).

Belanja bisa menjadi salah satu cara orang menghilangkan stress, ada kebahagiaan memiliki barang baru. Namun stress bisa semakin bertambah saat orang itu melihat tagihan di kartu kreditnya atau di alat pembayaran digital yang digunakan. Alih-alih menghilangkan stress, justru stress bertambah akibat kesulitan keuangan.

Warren Buffet, pebisnis ulung dan investor andal, memberi nasihat tentang mengelola keuangan pribadi: “Jangan menabung sisa uang setelah belanja, tetapi belanjalah hanya dengan menggunakan sisa uang setelah menabung.”

Orang bijak lainnya mengatakan, uang tak bisa kamu petik di pohon; uang diperoleh dari hasil keringatmu. Menghabiskan uang secara ‘sembarangan’ berarti mengharuskan diri bekerja keras menghasilkan uang. Jadi gunakanlah uang dengan bijaksana, smart spending.